Perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2019, banyak membuat masyarakat bingung dengan bertebarannya begitu banyak berita bohong/palsu (hoaks). Ketika informasi bohong tersebut diterima sebagai suatu kebenaran, maka dampaknya tentu sangat tidak baik. Polarisasi masyarakat sangat tajam membuat kekhawatiran bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Masalahnya adalah mengapa masyarakat kita begitu mudah menerima informasi bohong?
Dalam kehidupan sehari-hari sangat sering terjadi kita tidak bisa mengunakan pengetahuan yang sudah kita pelajari untuk membuat suatu keputusan. Sering terjadi pengambilan keputusan yang tidak disertai dengan fakta-fakta yang faktual dan objektif. Ketika pengambilan keputusan seperti itu adanya, maka akhirnya keputusan yang diambil bersifat subjektif. Dapat dibayangkan apa yang terjadi ketika keputusan itu menyentuh masyarakat banyak. Ini akan menimbulkan dampak sosial bola salju yang tidak bagus.
Ketidakbiasaan kita menggunakan pengetahuan yang sudah kita memiliki, kemungkinan karena rendahnya literasi sains kita. Ketidakbiasaan kita menggunakan fakta-fakta yang objektif, dan lebih cenderung menggunakan rasa suka atau tidak suka (like dislike) juga menunjukkan literasi sains yang masih rendah. Masih rendahnya literasi sains di kalangan anak-anak atau masyarakat, memberikan dampak yang tidak bagus bagi pembangunan bangsa dan negara khususnya pada pendidikan.
Literasi Sains (Scienttific Literacy) didefinisikan sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta dan data untuk memahami alam semesta dan membuat keputusan dari perubahan yang terjadi karena aktivitas manusia (OECD, 2003). Literasi sains penting untuk dikuasai dalam kaitannya dengan bagaimana memahami lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi, dan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat modern.
Masih rendahnya literasi sains kita, tampaknya berkorelasi dengan kondisi minat baca bangsa kita. Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Universuty pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca. Padahal, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Hal yang paling mendasar dalam praktik literasi adalah kegiatan membaca. Jadi, upaya untuk meningkatkan literasi sains salah satunya adalah dengan meningkatkan minat baca.
Jika mengacu pada konsep scientific literacy tersebut, betapa pentingnya literasi sains bagi masyarakat zaman digital sekarang. Dapat dipastikan kinerja pendidikan khsusnya akan meningkat ketika kita terbiasa mengkonsepi dan menerapkan literasi sains dalam pendidikan kita. Yang paling penting adalah literasi sains akan membiasakan kita untuk mengambil keputusan secara lebih objektif. Menerima dan menyikapi suatu keputusan secara lebih objektif. Ini adalah satu hal yang penting bagi kemajuan pendidikan kita.
Literasi sains yang baik akan memungkinkan kita akan lebih objektif dalam mengambil suatu keputusan. Lebih kritis dan ojektif terhadap suatu keputusan yang menyangkut dirinya. Yang paling penting adalah literasi sains yang baik secara teoretik berkorelasi positif dengan pembangunan karakter yang baik. Literasi tidak sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Jadi literasi itu merupakan keterampilan yang penting dalam hidup. Budaya literasi yang tertanam dalam diri seseorang memengaruhi tingkat keberhasilannya dalam hidup bermasyarakat.
Rendahnya minat baca memberikan sedikit gambaran bagaimana tingkat literasi sains kita. Mungkin karena inilah kita sangat sering akhirnya mendengar, melihat pidato dari pejabat/ pengambil keputusan tidak objektif. Terjadi kecenderungan subjektivitas yang tinggi, kurang argumentatif, dan tidak tepat sasaran. Hal ini tentu akan berdampak negatif bagi anak-anak muda generasi penerus. Mereka akhirnya terbiasa dengan ketidakobjektifan dalam berbagai hal. Ini adalah sesuatu yang kurang bagus untuk kemajuan pendidikan.
Rendahnya literasi membaca berpengaruh pada daya saing bangsa dalam persaingan global. Karena itu pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS bertujuan untuk (1) menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah, (2) meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat, (3) menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan, dan (4) menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.
Ketika pemerintah telah giat dengan kebijakan GLS ini, maka masyarakat mesti mendukung kebijakan ini di tingkat rumah tangga. Menumbuhkan kebiasaan membaca di tingkat rumah tangga akan mendukung GLS. Hal ini sangat penting karena wajib membaca akan memberikan dampak positif yaitu (1) membentuk budi pekerti, (2) mengembangkan rasa cinta membaca, (3) merangsang tumbuhnya kegiatan membaca di luar sekolah, (4) menambah pengetahuan dan pengalaman, (5) meningkatkan intelektual, (6) meningkatkan kreativitas, dan (7) meningkatkan kemampuan literasi tinggi. Ketika literasi sains bertumbuh dengan baik maka anak-anak akan terbiasa berpikir kritis, menyelesaikan masalah dengan kreatif, mampu bekerjasama dengan orang lain, dapat berkomunikasi dengan lebih baik, serta menyiapkan menghadapi tantangan abad 21.
Jadi, literasi sains akan membiasakan kita untuk memilih informasi ilmiah yang tepat, memahami gambar, bagan, dan tabel pada informasi ilmiah, menilai kebenaran sebuah temuan dari informasi ilmiah. Dengan literasi sains yang baik, maka siswa/masyarakat akan belajar untuk menilai sebuah informasi. Apakah informasi ini berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan? Apakah informasi ini disimpulkan dari penelitian yang dapat dipercaya? Artinya literasi sains akan membiasakan siswa/ masyarakat lebih objektif. Jika ini sudah berjalan dengan baik, maka bertebarannya berita-berita bohong dimana pun atau kapan pun tidak akan berefek besar.
Dalam kehidupan sehari-hari sangat sering terjadi kita tidak bisa mengunakan pengetahuan yang sudah kita pelajari untuk membuat suatu keputusan. Sering terjadi pengambilan keputusan yang tidak disertai dengan fakta-fakta yang faktual dan objektif. Ketika pengambilan keputusan seperti itu adanya, maka akhirnya keputusan yang diambil bersifat subjektif. Dapat dibayangkan apa yang terjadi ketika keputusan itu menyentuh masyarakat banyak. Ini akan menimbulkan dampak sosial bola salju yang tidak bagus.
Ketidakbiasaan kita menggunakan pengetahuan yang sudah kita memiliki, kemungkinan karena rendahnya literasi sains kita. Ketidakbiasaan kita menggunakan fakta-fakta yang objektif, dan lebih cenderung menggunakan rasa suka atau tidak suka (like dislike) juga menunjukkan literasi sains yang masih rendah. Masih rendahnya literasi sains di kalangan anak-anak atau masyarakat, memberikan dampak yang tidak bagus bagi pembangunan bangsa dan negara khususnya pada pendidikan.
Literasi Sains (Scienttific Literacy) didefinisikan sebagai kapasitas untuk menggunakan pengetahuan ilmiah, mengidentifikasi pertanyaan dan menarik kesimpulan berdasarkan fakta dan data untuk memahami alam semesta dan membuat keputusan dari perubahan yang terjadi karena aktivitas manusia (OECD, 2003). Literasi sains penting untuk dikuasai dalam kaitannya dengan bagaimana memahami lingkungan hidup, kesehatan, ekonomi, dan masalah-masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat modern.
Masih rendahnya literasi sains kita, tampaknya berkorelasi dengan kondisi minat baca bangsa kita. Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Universuty pada Maret 2016, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca. Padahal, dari segi penilaian infrastruktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Hal yang paling mendasar dalam praktik literasi adalah kegiatan membaca. Jadi, upaya untuk meningkatkan literasi sains salah satunya adalah dengan meningkatkan minat baca.
Jika mengacu pada konsep scientific literacy tersebut, betapa pentingnya literasi sains bagi masyarakat zaman digital sekarang. Dapat dipastikan kinerja pendidikan khsusnya akan meningkat ketika kita terbiasa mengkonsepi dan menerapkan literasi sains dalam pendidikan kita. Yang paling penting adalah literasi sains akan membiasakan kita untuk mengambil keputusan secara lebih objektif. Menerima dan menyikapi suatu keputusan secara lebih objektif. Ini adalah satu hal yang penting bagi kemajuan pendidikan kita.
Literasi sains yang baik akan memungkinkan kita akan lebih objektif dalam mengambil suatu keputusan. Lebih kritis dan ojektif terhadap suatu keputusan yang menyangkut dirinya. Yang paling penting adalah literasi sains yang baik secara teoretik berkorelasi positif dengan pembangunan karakter yang baik. Literasi tidak sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Jadi literasi itu merupakan keterampilan yang penting dalam hidup. Budaya literasi yang tertanam dalam diri seseorang memengaruhi tingkat keberhasilannya dalam hidup bermasyarakat.
Rendahnya minat baca memberikan sedikit gambaran bagaimana tingkat literasi sains kita. Mungkin karena inilah kita sangat sering akhirnya mendengar, melihat pidato dari pejabat/ pengambil keputusan tidak objektif. Terjadi kecenderungan subjektivitas yang tinggi, kurang argumentatif, dan tidak tepat sasaran. Hal ini tentu akan berdampak negatif bagi anak-anak muda generasi penerus. Mereka akhirnya terbiasa dengan ketidakobjektifan dalam berbagai hal. Ini adalah sesuatu yang kurang bagus untuk kemajuan pendidikan.
Rendahnya literasi membaca berpengaruh pada daya saing bangsa dalam persaingan global. Karena itu pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS bertujuan untuk (1) menumbuhkembangkan budaya literasi membaca dan menulis siswa di sekolah, (2) meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat, (3) menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan, dan (4) menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.
Ketika pemerintah telah giat dengan kebijakan GLS ini, maka masyarakat mesti mendukung kebijakan ini di tingkat rumah tangga. Menumbuhkan kebiasaan membaca di tingkat rumah tangga akan mendukung GLS. Hal ini sangat penting karena wajib membaca akan memberikan dampak positif yaitu (1) membentuk budi pekerti, (2) mengembangkan rasa cinta membaca, (3) merangsang tumbuhnya kegiatan membaca di luar sekolah, (4) menambah pengetahuan dan pengalaman, (5) meningkatkan intelektual, (6) meningkatkan kreativitas, dan (7) meningkatkan kemampuan literasi tinggi. Ketika literasi sains bertumbuh dengan baik maka anak-anak akan terbiasa berpikir kritis, menyelesaikan masalah dengan kreatif, mampu bekerjasama dengan orang lain, dapat berkomunikasi dengan lebih baik, serta menyiapkan menghadapi tantangan abad 21.
Jadi, literasi sains akan membiasakan kita untuk memilih informasi ilmiah yang tepat, memahami gambar, bagan, dan tabel pada informasi ilmiah, menilai kebenaran sebuah temuan dari informasi ilmiah. Dengan literasi sains yang baik, maka siswa/masyarakat akan belajar untuk menilai sebuah informasi. Apakah informasi ini berdasarkan data yang dapat dipertangungjawabkan? Apakah informasi ini disimpulkan dari penelitian yang dapat dipercaya? Artinya literasi sains akan membiasakan siswa/ masyarakat lebih objektif. Jika ini sudah berjalan dengan baik, maka bertebarannya berita-berita bohong dimana pun atau kapan pun tidak akan berefek besar.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar