Tanpa seorang Guru yang sempurna, kita tidak dapat menjadi siswa yang sejati
Bila Gurunya tamak dan siswanya rakus, yang akan bertambah
hanyalah ketamakan
Guru-guru seperti itu murah harganya, sepicis
selusinnya………
(Kabir Sahib, dalam Singh,M.F.2006:36)
Masih terngiang dalam ingatan masyarakat pendidikan kita, peristiwa plagiator di kalangan akademisi kampus, joki karya tulis di kalangan guru/pengawas, pembocoran soal ujian nasional oleh guru, rekayasa nilai rapor, kebiasaan menyontek di kalangan siswa, dsb. Beberapa kejadian tersebut membuat masyarakat bertanya-tanya, ada apa dengan pendidikan kita? Peristiwa-peristiwa ini hanyalah sebagian kecil dari begitu kompleksnya masalah pendidikan kita. Tatkala kejadian-kejadian parsial ini tidak tertangani, akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang membudaya.
Dapat dibayangkan, akhirnya kita memperoleh dalil-dalil, simpulan-simpulan, bahkan pengambilan kebijakan yang sangat bias. Maka terjadilah setidaknya tiga siklus bias dari pendidikan yang tidak benar yaitu (1) proses pendidikan yang tidak jujur; (2) hasil pendidikan yang tidak objektif/ tidak jujur (3) kebijakan pendidikan yang tidak objektif/tidak jujur. Ketika tiga sikulus ini berjalan begitu lama dan akhirnya menjadi kebiasaan, maka sangatlah tidak mungkin kita teralalu berharap pada pendidikan kita. Karenanya, membangun kejujuran dalam pendidikan menjadi sesuatu yang sangat penting.
Sejarah mencatat ketika J.F Kennedy pada tahun 1957, mengajukan pertanyaan lantaran Amerika Serikat tertinggal dalam teknologi ruang angkasa dari Uni Soviet: ”What’s wrong with American classroom?” Pertanyaan ini menukik langsung pada bagaimana proses pendidikan yang berlangsung di ruang-ruang kelas Amerika. Pertanyaan yang sederhana ini akhirnya melahirkan serangkaian pembaharuan pendidikan dengan dukungan dana yang memadai. Tampaknya pertanyaan Kennedy ini bukan merupakan sesuatu yang tabu bila kita tujukan juga kepada berbagai masalah pendidikan kita di Indonesia.
Selama ini pertanyaan-pertanyaan perihal permasalahan pendidikan di Indonesia terlalu jauh dari ujung tombak pendidikan kita sebenarnya, yaitu ruang-ruang kelas kita. Ini tidak berarti kita menampikkan proses pendidikan di kalangan keluarga dan masyasrakat. Tetapi kita harus akui bahwa pendidikan di Indoneisa yang berlangsung di ruang-ruang kelas masih merupakan faktor yang sangat dominan pengaruhnya. Karenanya kita patut melihat kembali bagaimana proses pendidikan di ruang-ruang kelas kita. Sudahkan proses pembelajaran berlangsung dengan baik? Sudahkan proses pembelajaran didukung oleh sumber daya dan sarana pendidikan yang memadai? Jika kita jujur dan objektif, maka jawabannya adalah kita belum jujur dalam melaksanakan proses pendidikan.
Tanggung jawab moral bagi kejujuran dalam proses pendidikan terletak di tangan guru. Di tangan guru yang jujur, maka proses pendidikan akan menghasilkan anak-anak yang jujur begitu juga sebaliknya, proses pendidikan tidak akan menghasilkan anak-anak yang jujur dari tangan seorang guru yang tidak jujur. Tidakkah kita rasakan saat ini bahwa kejujuran dalam dunia pendidikan kita masih diragukan? Indikasi ini sangat jelas ketika nilai hasil ujian nasional tidak dipercaya sebagai syarat dalam penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi. Jika kita telaah permasalahan tersebut, maka kita dapat sebutkan bahwa kejujuran dalam proses ujian nasional sehingga menghasilkan nilai ujian nasional masih disangsikan. Ini secara tidak langsung sebenarnya mempertanyakan kejujuran guru yang notabene sebagai ujung tombak pendidikan kita di ruang-ruang kelas. Oleh karenanya guru Indonesia mesti mulai membangun nilai-nilai kejujuran dalam pendidikan kita.
Konsekuensi dari kesangsian pengguna keluaran proses pendidikan dari persekolahan, menunutut guru melakukan refleksi diri dalam mengemban misi mulia ini. Jika hasil pendidikan menghasilkan pribadi-pribadi yang lemah, doyan korupsi kolusi dan nepotisme (KKN), tak bertanggung jawab, tak bermoral, dan tidak mandiri, ini berarti program pendidikan itu gagal. Tatkala itu guru harus jujur pada dirinya, sudahkah proses pembelajarn di ruang-ruang kelasnya dilaksanakan dengan kejujuran hati, kata, dan perilaku. Jika kejujuran ini tersemaikan dengan subur maka tidaklah mustahil akan melahirkan peserta didik menjadi pribadi sempurna lahir dan batin. Tepatlah kutipan dari Kabir Sahib yang menyatakan Tanpa seorang Guru yang sempurna, kita tidak dapat menjadi siswa yang sejati; Bila Gurunya tamak dan siswanya rakus, yang akan bertambah hanyalah ketamakan.
Data dan pengumuman lembaga-lembaga survei internasional menunjukkan praksis pendidikan kita yang belum menggembirakan. Pesaing Indonesia tidak lagi Malaysia, Singapura, atau Thailand, tetapi kita bersaing dengan Myanmar, Laos, Sri Lanka. Pertanyaan besarnya adalah dimanakah kesalahannya? Mungkin jawaban ini penting untuk direnungkan oleh kita semua. Itu adalah sebuah kata ”kejujuran”. Itu adalah tingkat integritas kita bersama dalam mengkonsepi pendidikan kita. Apakah itu di masyarakat, di dalam keluarga, atau pendidikan di lembaga formal.
Pemerintah sebenarnya telah melakukan terobosan untuk meningkatkan integritas dalam pendidikan kita. Sebutlah misalnya pelaksanaan ujian nasional (UN). Jika dulu UN hanya berbasis kertas, saat ini pemerintah sudah menerapkan ujian nasional berbasis komputer (UNBK). Meskipun UNBK belum bisa untuk semua sekolah, namun langkah ini merupakan langkah yang bagus untuk meningkatkan integritas evaluasi pendidikan kita. Hasil UN yang berintergitas, dapat menjadi evaluasi yang objektif bagi guru dalam mengelola proses pembelajaran. Juga sebagai evaluasi yang objektif bagi program pendidikan yang telah dilaksanakan, serta evaluasi berbagai proses manajemen pendidikan lainnya.
Langkah pemerintah yang
sudah mulai mengencarkan membangun intergitas dalam pendidikan, perlu disambut
oleh seluruh anak bangsa. Paling tidak setiap anak bangsa dapat memulainya dari
lingkungannya sendiri. Dari diri sendiri, kemudian di dalam keluarga,
lingkungan masyarakat sekitarnya, dan seterusnya. Kita harus percaya bahwa
langkah besar dimulai dari satu langkah kecil. Bahwa pohon beringin yang besar
dan rimbun berasal dari biji yang kecil. Apakah langkah kecil itu, itu adalah
”kejujuran”. Kejujuran akan memberi warna cerah pada pendidikan kita.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar