Tulisan Berjalan

<< DBEdu Blog - I Gede Ariyasa >> << Terima Kasih Sudah Berkunjung >>

Jumat, 26 Juni 2020

MENJADI SEORANG VEGETARIAN

(Artikel ini merupakan salah satu Bab pada Buku "Roda Kehidupan, Meyakini Kebesarann Tuhan", Karya : I Gede Ariyasa, Penerbit Pustaka Ekspresi, ISBN : 978-623-7606-28-4)

Sebelum tahun 1995, saya memang terkenal sebagai orang yang suka makan, tentu makan daging juga. Bahkan di kampung saya sudah menjadi kebiasaan orang tua ketika Hari Raya Galungan menyembelih seekor babi untuk upacara dan sebagai konsumsi kami sekeluarga. Keluarga kecil kami yang hanya terdiri dari empat orang, tampaknya daging satu ekor babi terlalu berlebihan. Kebiasaan ini membuat saya dikenal di lingkungan kampung saya sebagai orang yang suka makan daging terutama urutan, sate, tum, dan gorengan. Namun kebiasaan saya ini berubah seratus delapan puluh derajat setelah selesai melakukan kuliah kerja nyata (KKN) di Gelgel. Bagaimana ceritanya?

Kisah ini berawal dari ketika saya sedang menjalani kuliah kerja nyata (KKN) sebagai program wajib menyelesaikan sarjana S-1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Undayana (UNUD). Tempat KKN saya di desa Gelgel Kabuapaten Klungkung, dan poskonya di rumah Kepala Desa di pinggir jalan utama Gelgel­-Klungkung. Kami bersepuluh dari berbagai fakultas menjadi satu posko, dan kebetulan dari FKIP hanya saya sendiri. Di samping melaksanakan program-program yang telah direncanakan, kami pun aktif bersosialisasi dengan warga sambil mengenal dari dekat Desa Gelgel.

Ketika bersosialisasi inilah saya bertemu dengan salah satu warga yang telah menjalani diet vegetarian. Kami berdiskusi dan beradu argumentasi tentang vegetarian sampai larut malam. Saat itu saya menentang habis-habisan konsep vegetarian yang disampaikan. Bahkan untuk memperkuat ketidaksetujuan saya dengan konsep vegetarian, saya mengajak teman KKN dari fakultas kedoteran, yang kebetulan juga sama konsepnya dengan saya. Diskusi dan adu argumentasi itu berlangsung dari sore sampai larut malam, dan berakhir dengan ketidakpuasan saya.

Singkat cerita, setelah tiga bulan saya mengakhiri program KKN dan kembali ke bangku kuliah. Dan saya pun telah melupakan debat adu argumentasi tentang vegetarian itu. Suatu ketika di sebelah rumah saya di kampung, ada keluarga yang akan menyelenggarakan upacara perkawinan. Sebagai keluarga tentu saya turut serta dalam berbagai persiapan upacara tersebut. Ketika itu, saya sedang ikut membantu mempersiapkan tempat upacara di penerimaan tamu. Saya masih ingat, kala itu saat naik untuk memasang bambu, saya dikejutkan oleh jatuhnya sebuah buku dari atas almari di ruang keluarga. Betapa terkejutnya saya, bak petir di siang bolong, ketika sekilas saya melihat ada sosok wajah orang tua bersorban dengan jenggot panjang putih yang tersenyum memandang ke arah saya yang terpampang di sampul buku tersebut. Wajah orang tua yang berjenggot putih dengan sorban putih tersenyum lembut kepada saya. Karena sekilas begitu cepat, setelah beberapa saat saya tidak memperhatikan buku itu lagi, saya melanjutkan pekerjaan.

Suatu kesempatan, tanpa sengaja saya memandang ke arah buku yang jatuh tadi, betapa terkejutnya saya. Wajah orang tua berjenggot bersorban putih itu terlihat kembali seperti tersenyum kepada saya, dan membuat jantung saya berdebar dan bulu kuduk merinding. Saya hentikan pekerjaan dan mengambil buku tersebut. Buku yang cukup tebal yang nampaknya sudah lama, berwarna dasar merah berjudul ”PANGGILAN MAHAGURU”. Di sampulnya terdapat foto seseorang yang berjanggut putih dan bersorban putih yang mana orang tua inilah yang tadi saya lihat tersenyum kepada saya. Belakangan saya tahu bahwa beliau adalah seorang guru spiritual, seorang Suci, seorang Satguru dari Radhasoami Satsang Beas, yang mengajarkan Yoga Surat Sabda.

Seperti ada magnet, saya mengambil buku itu dan meminjam kepada saudara sepupu saya. Semalam suntuk buku itu saya baca habis dan sepertinya saya menemukan sesuatu yang selama ini saya cari-cari semenjak di bangku sekolah menengah atas (SMA). Pagi harinya seperti ada keajabian, saya menyampaikan kepada ibu bahwa mulai hari itu saya tidak makan daging. Dan niat saya itu didukung oleh ibu, dan jadilah sejak saat itu saya seorang vegetarian. Ini memang ajaib dan belakangan saya menyimpulkan bahwa ini adalah mujizat bagi saya. Bagaimana tidak, pertama, saya sebagai orang yang terkenal makan daging lalu berubah menjadi tidak makan daging; kedua kejadian ini hanya berlangsung semalam dan karena setalah membaca sebuah buku yang berjudul ”PANGGILAN MAHAGURU.” Aneh bin ajaib.

Saya menyadari bahwa ini semua bukan karena saya sendiri, sepertinya ada kekuatan yang mendorong dan menarik saya untuk bervegatarian. Saya menganggap ini atas ijin dan karunia Tuhan. Vegetarian akhirnya menjadi pola hidup saya sampai sekarang. Saya tidak menyesali keputusan atau lebih tepat disebut keajaiban ini, tapi bersyukur bahwa Tuhan telah memberi kesempatan kepada saya untuk melaksanakan vegetarian ini. Yang mana hal ini dua tahun kemudian akhirnya menghantarkan saya diterima sebagai siswa spiritual untuk belajar dan berlatih Yoga Surat Sabda dari Satguru yang meneruskan ajaran Beliau yang saya lihat fotonya pada buku. Bagi saya ini adalah salah satu momen paling penting dalam kehidupan saya ini. Terima kasih Tuhan.

Sejak menjadi seorang vegetarian (1995) sampai sekarang (2017), banyak perubahan atau boleh disebut mujizat yang terjadi pada saya. Memang menjadi seorang vegetarian memerlukan keberanian dan kekuatan untuk memulai serta yang paling penting adalah adanya karunia Tuhan. Bagi sebagian orang, cara hidup vegetarian mungkin dianggap sebagai sesuatu kesia-siaan dan hanya menyiksa diri. Apalagi dalam kehidupan sosial di masyarakat Bali, dengan berbagai pernak-pernik kegiatannya, sepertinya cara hidup vegetarian tidaklah mudah. Namun sekali lagi itu bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Pendapat yang menyatakan bahwa pola hidup vegetarian adalah pola hidup yang sehat, ini bukanlah pernyataan kosong belaka. Saya sendiri kurang lebih 26 tahun merasakan kebugaran tubuh yang luar biasa. Tapi yang paling penting menurut saya adalah, pola hidup vegetarian betul-betul mengubah pola pikir saya, bahwa kehidupan ini bukanlah hanya jasmani saja tetapi yang paling penting kehidupan rohani kita.

Hal ini mungkin sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh Mahaguru Maharaj Sawan Sing Ji. Beliau menyatakan: ”....tubuhmu akan menjadi sama seperti makananmu, sama seperti rohmu menjadi sama seperti pikiranmu.” Saya menjadi ingin mengutip sebuah syair yang ditulis pengarang dan penulis sandiwara Inggris terkenal George Bernard Shaw.

Vegetarisme
(Karya: George Bernard Shaw)


Kami adalah kuburan dari binatang-binatang yang mati terbunuh,
Yang disembelih untuk memuaskan selera kami;
Kami tak pernah berhenti untuk berpikir sejenak tentang pesta-pesta kami itu.
Apakah binatang – seperti manusia – juga mempunyai hak-hak.
Kami berdoa setiap minggu agar mendapat terang
guna membimbing langkah-langkah kami pada jalan yang kami lalui.
Kami muak akan perang, kami tak mau bertempur
Sekarang saja kenangannya telah memenuhi hati kami dengan ketakutan;
Tetapi toh – kami kana lahap-lahap yang mati;
Bagaikan burung nazar kami hidup dan makan daging,
Tanpa peduli akan penderitaan dan kesakitan
Yang timbul sebagai akibat dari perbuatan kami itu;
Jika seperti itu kami memperlakukan
Binatang-binatang yang tak berdaya itu untuk bersenang-senang.
Bagaimana di dunia ini kami boleh berharap untuk memperoleh
Damai yang konon sangat kita dambakan?
Kami berdoa untuk memperolehnya, di atas kurban sembelihan,
Kepada Tuhan, sambil memperkosa hukum moral;
Karena itu kekejaman menghasilkan buahnya - Perang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar