Tulisan Berjalan

<< DBEdu Blog - I Gede Ariyasa >> << Terima Kasih Sudah Berkunjung >>

Jumat, 10 Juli 2020

Sudahkah Guru Membaca Karya Guru?

Sahabat DBEdu, Dhyan Bali Edu kali ini ingin mengetuk hati para guru di seluruh Indonesia agar menumbuhkan rasa empati kebersamaan di kalangan guru. Sering terdengar keluhan di kalangan beberapa orang guru yang menerbitkan karya baik itu buku, antologi, postingan youtube, blog atau postingan di media sosial (facebook, whatsapps, twitter, telegram, dll), bahwa mereka kurang mendapat respon positif dari sesama guru. Beberapa guru akhirnya redup kembali dalam berkarya.

Ketika ini dibiarkan berjalan terus,maka akan menjadi preseden buruk ke depan bagi guru yang ingin berkarya. Karya-karya guru mestinya mendapat apresiasi dari masyarakat, terutama kalangan guru sendiri secara lebih baik. Potensi yang ada jika guru mendukung dan mengapresiasi karya guru sangatlah besar karena jumlah guru sangat banyak, Bahkan ada potensi peserta didik untuk menjadi customer sangatlah besar. Mengapa hal ini sekarang nampaknya belum berjalan?

Karya guru tidaklah sepenuhnya berbasis bisnis. Mungkin sebagian besar karya guru saat ini untuk kepentingan profesi mereka, yaitu pengembangan profesi untuk kenaikan pangkat. Alangkah eloknya ketika karya-karya guru di satu sisi dapat membantu pengembangan profesi mereka, di sisi lain mereka juga dafat benefit dari karya-karya mereka. Ketika hal ini dapat terjadi, maka ini akan membantu upaya peningkatan kesejahteraan guru . Tentu hal ini pada akhirnya akan membantu upaya pemerintah dalam upaya kesejahteraan guru.

Jika kita cermati kesenjangan dan peluang yang ada, maka nampaknya ini dapat dicarikan solusinya. Bagaimanakah solusinya? Bagaimana peluangnya? Kita ikuti uraian berikut ini.

Solusi Pemecahan. Salah satu solusi yang paling sederhana adalah guru harus membeli karya guru, guru harus membaca karya guru. Jadi guru membeli dan membaca karya buatan guru (guli cakar buru). Hal ini nampaknya sederhana, namun sangat sulit untuk diwujudkan. Pengalaman beberapa teman guru yang sudah menerbitkan karya-karyanya banyak mengeluh akan hal ini. Kita bisa cermati beberapa guru yang memposting karyanya lewat media sosial, kita dapat lihat berapa orang guru yang memberi ”like” atau “komentar” Paling-paling hanya diisi tanda ”jempol” atau kata ”mantap”

Mari kita bandingkan ketika ada postingan ulang tahun, acara makan-makan, perkawinan, dsb. Responnya pasti lebih banyak jika dibandingkan ketika guru memposting karya-karya mereka. Secara objektif kita harus akui, postingan karya-karya guru di media sosial belum mendapat perhatian dari sesama teman seprofesinya secara baik. Jumlah guru sangat banyak, ketika mereka empati kepada teman seprofesinya maka tentu responnya juga banyak. Para guru harus mulai menata ulang pikirannya, bahwa guru besar oleh guru.

Mungkin saja slogan berikut harus kita cermati dengan dalam. ”Remeh bagi kita, tapi berarti bagi orang lain.” Sebagian guru mungkin berpikir itu tidak begitu berarti. Tetapi, satu klik ”like” dan sekadar ucapan ”mantap” atau ”tanda jempol”, itu sangat berarti bagi seorang guru penulis. Itu akan menambah semangat guru untuk berkarya lagi. Ini semacam efek psikologis, guru turut menumbuhkan semangat berkarya teman seprofesinya. Ini harus dijadikan kebiasaan baru para guru, like karya guru”.

Solusi peluang. Pertanyaannya berikutnya adalah: mengapa guru ”belum” membeli dan membaca karya guru secara maksimal? Apakah karya guru tidak berkualitas, atau karya guru terlalu sedikit sehingga tertimbun oleh karya-karya yang lain. Jika hal itu benar, maka ini akan menjadi tantangan bagi guru-guru yang berkarya. Guru harus meningkatkan kualitas dan kuantitas karya-karyanya. Seiring dengan berjalannya waktu, sangat diyakini kualitas karya-karya guru pasti akan terus meningkat. Tetapi mengenai kuantitas ini menjadi tantangan bagi guru.

Jika saja potensi jumlah guru dapat dimaksimalkan secara bola salju, maka ini akan menjadi semacam ”koperasi karya guru”. Seiring dengan berjalannya waktu, kebiasaan ”like karya guru” di media sosial akan menjadi budaya bagi seluruh guru. Ini akan menjadi budaya baik yang memberi banyak manfaat bagi guru dan tentu bagi dunia pendidikan secara umum. Para guru harus mulai ringan tangan memberi jempol, memberi like, memberi komentar kepada setiap karya guru. Kebiasaan ini pasti akan menyuburkan budaya membaca karya guru.

Para sahabat DBEdu, semoga para guru tetap semangat dalam berkarya. Kita bantu para guru Indonesia untuk menjadi guru yang lebih profesional. Ayo para guru bacalah karya guru. 

Salam

2 komentar: