Tulisan Berjalan

<< DBEdu Blog - I Gede Ariyasa >> << Terima Kasih Sudah Berkunjung >>

Minggu, 12 Juli 2020

”Siapa Betul Boleh Pulang”

Sahabat DBEDu, selamat bertemu kembali dengan Dhyan Bali Edu. Kali ini Dhyan Bali Edu mengulas bagaimana memberi tugas kepada siswa dan siswa merasa senang dengan tugas itu. Ini adalah sebuah delematis yang memerlukan jurus jitu. Kita coba jurus berikut yang terinspirasi dari sebuah kisah yang pernah diceritakan seorang dosen Magister Manajemen Pendidikan Universitas Ganesha (UNDIKSHA) saat beliau duduk di bangku sekolah dasar. Para guru kiranya bisa belajar dari kisah ini. Bagaiman jalan ceritanya, kita ikuti bersama.


Sewaktu di sekolah dasar (SD) kira-kira 40 tahun yang lalu, ketika saat akan pulang sekolah, guru biasanya memberikan pertanyaan ”siapa betul boleh pulang.” Kisahnya diawali dari guru yang memberikan pertanyaan bahwa siapa yang betul menjawab pertanyaan boleh pulang. Seperti biasa anak-anak sudah mempersiapkan buku dan tasnya untuk pulang, dan bersiap mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan.

Pertanyaan pertama dari guru dijawab oleh Made. Made memang termasuk murid yang cerdas dan aktif di kelas itu. Dan jawabannya benar. Sehingga Made mendapat hadiah pulang lebih dahulu. Seperti hari-hari sebelumnya, anak-anak yang sudah menjawab betul dan boleh pulang lebih awal,  ternyata mereka tidak pulang. Mereka bergerombol di pintu masuk kelas menyaksikan teman-temannya yang lain berebut untuk menjawab pertanyaan. Pada akhirnya mereka pulang bersama-sama. Wajah ceria dan kegembiraan tersirat di wajah-wajah mereka.

Pada saat anak-anak akan pulang semuanya, pak guru memberi tugas kepada Made, ”Made tolong dibantu ya menutup jendela-jendela kelasnya. Nanti setelah itu kamu boleh pulang”. Padahal Made adalah anak yang pertama mendapat kesempatan pulang mendahului. Tetapi karena Made masih di sana, Pak Guru meminta bantuan kepada Made untuk menutup jendela-jendela kelas.

Made, yang saat ini telah menjadi dosen di UNDIKSHA, menceritakan bahwa saat itu ada rasa bangga dari seorang Made. Bangga dan senang bahwa Made diberi tugas oleh guru. Meskipun dia akhirnya pulang paling akhir dari teman-temnnya, padahal dia mendapat kesempatan pulang paling awal. Namun ada rasa kebanggan dan kegembiraan yang dirasakan Made saat diberi tugas oleh guru.

Selesai


 

Kisah ini mungkin saja pernah dialami mereka yang sekarng sudah menjadi guru. Jika kita cermati, ada satu hal yang menarik yang mungkin kita bisa jadikan pelajaran, bagaimana tugas yang diberikan siswa tidak membebani siswa, tetapi tugas itu dirasakan menyenangkan dan menumbuhkan rasa bangga ketika bisa mengerjakannya.

Hal ini sangatlah relevan pada saat pembelajaran dilakukan dari rumah. Guru-guru sekarang harus berupaya merancang tugs-tugas yang diberikan kepada siswa menjadi sesuatu yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu siswa. Tugas tersebut dapat menumbuhkan semangat untuk berkompetesi, dan menumbuhkan kebanggaan diri ketika menjadi pememang.

Inilah sebenarnya tantangannya guru-guru di massa pandemi covid-19. Bagaimana tugas-tugas yang diberikan bisa memberi rasa senang, semangat berkompetisi, dan memberi kebanggan pada anak-anak peserta didik. Guru harus kembali merenung hening, kemudian dengan kompetensinya harus menyiapkan dan merancang tugas-tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Ketulusan hati dari guru dalam menyiapkan tugas-tugas pasti akan menimbulkan reaksi positif bagi siswa yang menerima tugas ini. Ini adalah hukum alam yang tidak terbantahkan.

Intinya adalah guru harus menyiapkan tugas-tugasnya sedemikian rupa sehingga guru sendiri merasa senang, nyaman, dan bangga, bahwa tugas yang akan diberikan kepada siswa sudah diselesaikan dengan baik. Rasa inilah yang akan menjadi virus yang akan menular kepada anak-anak yang diberikan tugas. Ketika virus senang, nyaman, dan kebanggaan ini sudah menjadi pandemi, inilah sebenarnya hakikat dari guru mengajar.

Bagaimana sahabat DBEdu, semoga kisah di atas member inspirasi kepada para guru kita. Semangat para guru.

Salam


Tidak ada komentar:

Posting Komentar