Tulisan Berjalan

<< DBEdu Blog - I Gede Ariyasa >> << Terima Kasih Sudah Berkunjung >>

Jumat, 10 Juli 2020

Mengidentifikasi Permasalahan Pembelajaran pada BDR


Sahabat DBEdu, Dhyan Bali Edu, kali ini akan mengajak pada sahabat untuk menyimak berbagai permasalahan pembelajaran pada saat pembelajaran dilakukan dari rumah (Belajar Dari Rumah = BDR). Ini penting kita ketahui, agar kita dapat turut berpartisipasi dalam pembelajaran dari rumah. Dengan demikian akan tercipta masyarakat pebelajar yang kolaboratif dan saling mendukung. Apa lagi bagi orang tua, ini akan sangat bermanfaat dalam mendukung kemajuan belajar putra-putrinya.

Tidak dapat dihindari lagi, pembelajatan tahun pelajaran baru ini, siswa kembali akan melanjutkan BDR dengan sistem daring. Berbagai kemungkinan hal-hal yang dapat menjadi masalah dalam BDR ini kita simak ulasan berikut.

Pertama. Konsekuensi BDR secara daring, maka masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) juga berlansung dari rumah dengan daring (dalam jaringan/ online). Jadi anak-anak peserta didik baru, untuk mengetahui apa dan bagaimana sekolah barunya, satuan pendidikan (sekolah) menyiapkan proses MPLS secara daring. Siapa teman sekelasnya yang baru, siapa guru mata pelajarannya, siapa kepala sekolahnya, siapa guru bimbingan & konseling (BK), siapa pegawai tata usahanya, di mana perpustakaan, laboratorium, Lab. Komputer, kantin, lapangan olahraga, dll. Kita dapat bayangkan bagiaman anak-anak kita berkenalan dan bersosialisasi satu sama lain lewat dunia maya.

Permasalahan utama yang dapat kita identifikasi antara lain yang berhubungan dengan piranti yang digunakan saat BDR tersebut. Piranti itu antara lain, telepon genggam (handphone) atau tablet, atau personal computer (PC), internet (kuota internet). Hanphone dan internet tampaknya menjadi dua hal yang harus ada. Jika kedua atau salah satunya tidak ada, maka BDR nampaknya susah untuk dilakukan.

Kedua. Bagi peserta didik baru kelas X (SMA), baru masuk mereka harus sudah memilih peminatan (jurusan). Bagi anak-anak SMP mereka akan memilih ekstrakurikuler. Ini juga menjadi masalah terendiri bagi peserta didik baru dan pihak sekolah. Untuk kegiatan ekstrakurikuler, sekolah harus merancang kegiatan yang tidak tatap muka. Ekstrakuirkuler seperti, sepak bola, bola voli, atletik, dll, yang memerlukan praktek langsung tentu kurang pas jika diberikan kepada siswa. Tentu ini menjadi masalah tersendiri bagi peserta didik dalam memilih ekstrakurikuler yang mungkin tidak sesuai dengan minat dan bakatnya.

Di samping itu kendala tersebut, dalam hal ini yang paling mungkin menjadi permasalahan adalah sama dengan poin Pertama di atas. Hanphone dan internet tampaknya menjadi dua hal yang harus ada. Jika kedua atau salah satunya tidak ada, maka BDR nampaknya susah untuk dilakukan.

Ketiga. Pemanfaatan internet tampaknya menjadi suatu keharusan dalam BDR ini. Kita dapat bayangkan bagaimana untuk peserta didik yang berada di luar akses jaringan internet. Pengalaman diklat dengan para guru saja, kita menemukan bahwa masih ada guru yang kesulitan dalam jaringan internet, karena lokasi yang belum terjangkau jaringan. Hal ini tentu dapat terjadi pada peserta didik kita.

Keempat.Kemampuan orang tua dalam menyiapkan piranti yang diperlukan akan-anak mereka dalam BDR tentu sangat berbeda. Pengalaman menunjukkan, di SMP saja, banyak anak-anak kita tidak bisa ikut BDR lewat class room karena mereka tidak punya handphone. Ada yang punya hanphone, sangat sering mereka tidak punya kuota internet, karena mereka tidak punya biaya untuk membelinya. Tentu di sini, peranan orang tua sangat penting dalam menyuskseskan BDR ini.

Kelima. Satu hal yang paling penting adalah apakah orang tua peserta didik dapat mendampingi anak-anak mereka dalam BDR. Sementara BDR biasanya berjalan di waktu siang jam sekolah. Sementara itu para orang tua kemungkinan punya kesibukan dalam pekerjaannya. Ini adalah adalah yang sangat urgen untuk diperhatikan baik oleh pihak sekolah maupun para orang tua. Ketika orang tua tidak pernah dapat mendampingi anak-anaknya dalam BDR, dikhawatirkan anak-anak tidak belajar dengan baik.

Keenam. Dari pihak guru yang menjadi ujung tombak dalam BDR, Hal-hal yang mungkin menjadi permasalahan adalah kemampuan para guru untuk merancang pembelajarannya secara menarik. Bagi guru-guru yang kurang kreatif apalagi yang masih gagap teknologi, tentu akan menjadi masalah besar. Di samping itu, untuk menyiapkan dan menyelenggarakan BDR tentu guru memerlukan waktu yang cukup banyak. Ini mungkin saja melebih dari waktu ketika mereka mengajar secara tatap muka biasa atau luring (luar jaringan,/ offline). Yang tak kalah pentingnya adalah, dalam BDR tentu guru juga harus menyiapkan paket internetnya secara cukup baik dalam merancang BDR maupun dalam pelaksanaannya.

Baiklah sabahat, DBEdu, kira-kira itulah beberapa permasalahan yang mungkin ditemui dalam BDR. Semoga dengan mengetahuinya, sahabat DBEdu dapat turut berpartisipasi dalam menyuskseskan BDR ini.

Salam

5 komentar: