Tulisan Berjalan

<< DBEdu Blog - I Gede Ariyasa >> << Terima Kasih Sudah Berkunjung >>

Rabu, 08 Juli 2020

Fenomena Tugas Guru di Massa Pandemi Covid-19

Sahabat DBEdu, selamat bertemu kembali dengan Dhyan Bali Edu. Semoga semua tetap dalam keadaan sehat, dan semangat melaksanakan aktivitas. Kali ini Dhyan Bali Edu menyoroti fenomena di kalangan masyarakat tentang tugas guru di massa pandemi covid-19.

Semenjak bulan Maret dimana pandemi Covid-19 merambah seluruh dunia, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengambil kebijakan pembelajaran di sekolah dilaksanakan dari rumah. Kebijakan ini akhirnya dikenal sebagai Belajar Dari Rumah (BDR). Sejak saat itu anak-anak sekolahan belajar dari rumah, sementara guru-guru mereka memberikan pembelajaran jarak jauh dari rumah.

Seiring perjalanan waktu, mulai muncul opini negatif di kalangan masyarakat, bahwa guru saat ini enak sekali. Sudah tidak masuk kerja, gaji tetap dapat. Bahkan muncul wacana agar tunjangan sertifikasi guru harus dihentikan. Berbagai wacana dan opini ini muncul begitu saja di berbagai media sosial dan keseharian di masyarakat. Semua ini sedikit banyak membuat keresahan di kalangan guru. Masalahnya sekarang adalah, apakah benar tugas guru pada BDR ini menjadi lebih mudah? Apakah benar guru saat ini menerima gaji buta?

Di satu sisi di kalangan guru, di tahap awal pelaksanaan BDR, para guru mungkin merasa enak. Namun seminggu setelah berjalan, mulai muncul keluhan di kalangan guru. Bahwa mereka harus menguasai teknologi pembelajaran jarak jauh. Para guru mulai mengeluh bahwa mereka banyak mengeluarkan biaya untuk membeli kuoata internet. Para guru seharian harus menemani anak-anaknya di rumah belajar BDR, sementara mereka juga menyiapkan tugas-tugas sebagai guru baik Dalam Jaringan/Daring (bahasa Inggirs online) dan juga Luar Jaringan/Luring (bahasa Inggris offline).

Fenomena ini harus disikapi dengan bijak dan penuh pengertian. Opini masyarakat seperti di atas dapat terjadi, mungkin karena masyarakat belum tahu apa yang dikerjakan guru pada BDR. Kita coba cermati apa sebenarnya yang dilakukan guru pada BDR. Dengan mengetahui apa yang dikerjakan guru pada BDR, maka kita bisa lebih objektif membandingkannya kinerja guru ketika sekolah-sekolah belajar seperti biasa.

Pertama, dari sisi kebijakan Pemerintah. Pemerintah melalui Kemendikbud RI telah mengambil kebijakan bahwa pembelajaran di massa pandemi covid-19 dilaksanakan dari rumah. Kebijakan ini kemudian didukung petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaaan dari Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, tentu melalui Dinas Pendidikan masing-masing. Kebijakan ini yang akhirnya mengharuskan guru menyiapkan pembelajaran secara Daring. Meskipun pada kegiatan-kegiatan tertentu di sekolah mereka juga harus datang ke sekolah, seperti piket, mencetak buku rapor, dll.

Kedua, dari sisi teknis pembelajaran BDR. Implikasi dari BDR bagi guru adalah guru harus mendesain pembelajarannya secara Daring. Di sinilah sebenarnya letak kesibukan guru saat ini. Para guru dipaksa harus bisa menggunakan internet, mengirimkan tugas secara daring, membuat media pembelajaran secara daring, melakukan penilaian secara daring, rapat secara daring, dan semua hal secara daring. Bagi sebagian guru, hal ini mungkin tidak menjadi masalah karena sudah terbiasa dengan teknologi internet. Namun bagi sebagian guru yang masih gagap teknologi (gaptek) ini akhirnya menjadi tugas yang sangat berat bagi mereka.

Kita coba cermati lebih dalam lagi, apa lagi yang dilakukan guru saat BDR. Seiring dengan kewajiban pembelajaran dari rumah, saat ini sedang ramai-ramainya guru mengikuti pendidikan dan pelatihan secara daring/online. Jika kita cermati, semua diklat itu ada hubungannya dengan kemampuan penguasaan teknologi informasi/internet. Bahkan seminar-seminar secara daring sangat banyak. Semua ini sangat bagus bagi peningkatan kompetensi guru.

Mungkin hal inilah yang menjadi keluhan bagi sebagian guru. Ini terutama bagi mereka yang betul-betul gagap teknologi.Kita juga harus mengerti, bahwa diklat-diklat secara daring yang diikuti oleh guru, tidak semuanya gratis. Banyak juga yang berbayar, ini berarti pengeluaran biaya bagi guru tersebut. Belum lagi biaya untuk kuota internet yang harus mereka keluarkan, karena diklat daring tentu menggunakan internet. Masalah lain adalah pada beberapa daerah yang masih terkendala jaringan internet. 

Sahabat DBEdu, dengan mengetahui semua ini semoga kita bisa memahami fenomena yang terjadi, dan kita bisa bersikap yang lebih objektif. Harapannya adalah, pendidikan kita tetap berjalan dengan baik, tentu dengan mutu yang lebih baik. Salam hormat pada para Guru. Tetap semangat. 

Salam

2 komentar:

  1. Mntppp pak gede menginspirasiii..siipp slm kiterasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Pak Ngh, mohon dibantu untuk mengwujudkan satu hari satu tulisan (SARISATU)

      Hapus